Sebagai orang tua, Anda mungkin pernah bertanya, “Dok, gigi anak saya berlubang. Tapi kan nanti gigi susunya tanggal, apakah tetap harus dirawat?”
Pertanyaan seperti ini sangat sering muncul ketika orang tua membawa anak untuk melakukan pemeriksaan gigi.
Jawaban saya adalah: ya, gigi anak tetap perlu dirawat, termasuk gigi susu.
Gigi susu memang akan tanggal dan digantikan oleh gigi permanen. Namun, bukan berarti kita boleh membiarkannya berlubang, sakit, atau mengalami infeksi.
Dalam praktik kedokteran gigi, saya sering menemukan anak baru dibawa untuk diperiksa ketika sudah menangis karena sakit gigi, tidak bisa tidur, atau pipinya mulai membengkak.
Padahal, banyak masalah pada gigi anak sebenarnya dapat diketahui dan ditangani lebih awal.
Melalui artikel ini, saya ingin menjelaskan beberapa hal penting mengenai kesehatan gigi anak dengan bahasa yang mudah dipahami oleh orang tua.
Kenapa Gigi Anak Harus Dirawat?
Mari kita mulai dari fungsi gigi susu.
Sebagian orang tua menganggap gigi susu hanya sebagai “gigi sementara”. Memang benar gigi susu akan digantikan oleh gigi permanen. Namun, selama berada di dalam mulut, gigi tersebut memiliki fungsi yang sangat penting.
Gigi anak membantu si kecil untuk:
- Mengunyah makanan
- Belajar berbicara dengan lebih jelas
- Menunjang penampilan dan rasa percaya diri
- Mempertahankan ruang untuk pertumbuhan gigi permanen
- Mendukung pertumbuhan rahang
Bayangkan jika seorang anak mengalami sakit pada beberapa gigi sekaligus.
Anak mungkin akan menghindari makanan tertentu karena sulit mengunyah. Tidurnya dapat terganggu karena rasa sakit. Bahkan, anak bisa menjadi lebih rewel karena tidak mampu menjelaskan lokasi nyeri dengan baik.
Karena itu, jangan menunggu gigi susu tanggal sendiri jika sudah terdapat masalah.
Kapan Gigi Anak Mulai Tumbuh?
Gigi pertama bayi biasanya mulai muncul pada masa awal kehidupan. Namun, waktu tumbuh gigi dapat berbeda pada setiap anak.
Ada bayi yang giginya tumbuh lebih cepat. Ada pula yang sedikit lebih lambat.
Biasanya, gigi depan bawah menjadi salah satu gigi pertama yang terlihat.
Setelah itu, gigi lainnya akan tumbuh secara bertahap hingga terbentuk susunan gigi susu.
Saya sering menjelaskan kepada orang tua bahwa waktu tumbuh gigi tidak selalu sama persis antara satu anak dengan anak lainnya.
Karena itu, jangan langsung membandingkan pertumbuhan gigi anak Anda dengan anak lain.
Jika Anda khawatir karena gigi belum tumbuh atau terdapat kelainan pada proses pertumbuhan gigi, lakukan pemeriksaan ke dokter gigi.
Kenapa Gigi Anak Mudah Berlubang?
Ini merupakan salah satu pertanyaan yang paling sering ditanyakan.
“Dok, anak saya rajin sikat gigi. Kenapa tetap berlubang?”
Gigi berlubang tidak terjadi hanya karena satu faktor.
Proses terjadinya lubang gigi berkaitan dengan plak, bakteri, pola konsumsi makanan atau minuman yang mengandung gula, kondisi gigi, dan waktu.
Bakteri di dalam plak dapat menggunakan gula dari makanan dan minuman. Proses tersebut menghasilkan asam yang dapat memengaruhi mineral pada permukaan gigi.
Jika paparan terjadi berulang dan kebersihan gigi tidak terjaga dengan baik, kerusakan dapat berkembang.
Beberapa kebiasaan yang sering saya temukan pada anak dengan banyak gigi berlubang antara lain:
- Sering makan permen
- Sering mengonsumsi cokelat
- Minum minuman manis berulang kali
- Sering ngemil sepanjang hari
- Tidur setelah minum susu tanpa membersihkan gigi
- Menyikat gigi tanpa pengawasan orang tua
- Tidak menggunakan pasta gigi berfluoride secara tepat
- Jarang melakukan pemeriksaan gigi
Hal yang perlu diperhatikan bukan hanya berapa banyak gula yang dikonsumsi, tetapi juga seberapa sering gigi terpapar makanan dan minuman manis.
Apakah Gigi Susu yang Berlubang Harus Ditambal?
Jawabannya tergantung pada kondisi gigi.
Jika lubang masih memungkinkan untuk dilakukan penambalan, dokter gigi dapat mempertimbangkan perawatan restorasi atau tambal gigi.
Namun, sebelum menentukan perawatan, kami perlu melihat beberapa hal.
Seberapa dalam lubangnya?
Apakah anak sudah merasa sakit?
Apakah terdapat tanda infeksi?
Bagaimana kondisi jaringan di sekitar gigi?
Berapa usia anak dan bagaimana tahap pertumbuhan giginya?
Karena itu, jangan heran jika dua anak dengan gigi yang terlihat sama-sama berlubang mendapatkan rencana perawatan berbeda.
Perawatan gigi harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
Bagaimana Jika Gigi Anak Sudah Sakit?
Jika anak sudah mengeluh sakit gigi, jangan menunggu terlalu lama.
Anak yang mengalami sakit gigi mungkin menunjukkan beberapa perubahan perilaku.
Misalnya, anak menjadi rewel, sulit tidur, tidak mau makan, atau hanya mengunyah menggunakan satu sisi mulut.
Pada anak yang masih kecil, mereka mungkin belum mampu mengatakan, “Gigi saya berdenyut.”
Sebagai orang tua, Anda perlu memperhatikan tanda-tanda tersebut.
Sakit pada gigi berlubang dapat menunjukkan bahwa kerusakan sudah berkembang lebih dalam.
Obat pereda nyeri mungkin membantu mengurangi keluhan sementara. Namun, jika sumber masalah terdapat pada gigi, gigi tersebut tetap perlu diperiksa.
Saya sering mengingatkan pasien: jangan menunggu obat habis baru memikirkan perawatan gigi.
Jika rasa sakit terus kembali, kemungkinan penyebab utamanya belum ditangani.
Gigi Anak Bengkak, Apa yang Harus Dilakukan?
Gigi berlubang yang disertai pembengkakan perlu mendapatkan perhatian.
Pembengkakan dapat muncul pada gusi atau bahkan terlihat pada pipi.
Pada kondisi tertentu, anak juga dapat mengalami demam atau terlihat kurang aktif.
Jika Anda melihat gusi anak membengkak, keluar cairan atau nanah, pipi membesar, atau anak mengalami nyeri berat, segera lakukan pemeriksaan.
Jangan memencet pembengkakan menggunakan tangan atau menusuknya dengan benda tajam.
Saya juga tidak menyarankan orang tua memberikan antibiotik sisa yang ada di rumah.
Antibiotik bukan obat untuk semua sakit gigi.
Dokter perlu menilai kondisi anak sebelum menentukan apakah antibiotik memang diperlukan.
Apakah Gigi Anak yang Berlubang Harus Dicabut?
Tidak selalu.
Sebagai dokter gigi, tujuan kami bukan sekadar mencabut gigi yang sakit.
Jika gigi masih memungkinkan untuk dipertahankan dan memiliki fungsi penting, pilihan perawatan lain dapat dipertimbangkan.
Namun, pada kondisi tertentu, pencabutan mungkin diperlukan.
Misalnya, jika kerusakan sudah sangat berat atau terdapat kondisi lain yang membuat gigi tidak memungkinkan untuk dipertahankan.
Pada gigi anak, waktu tanggal alami dan perkembangan gigi permanen juga perlu dipertimbangkan.
Karena itu, jangan langsung meminta gigi anak dicabut hanya karena berlubang.
Lakukan pemeriksaan terlebih dahulu.
Anak Takut ke Dokter Gigi, Apakah Normal?
Ya. Banyak anak merasa takut ketika pertama kali datang ke dokter gigi.
Lingkungan baru, suara alat, lampu perawatan, dan bertemu orang yang belum dikenal dapat membuat anak merasa tidak nyaman.
Namun, ada satu hal yang sering tanpa sadar dilakukan orang tua.
Sebelum datang, orang tua berkata:
“Jangan takut, nanti tidak disuntik.”
Atau:
“Kalau nakal, nanti giginya dicabut dokter.”
Kalimat seperti ini justru dapat membuat anak membayangkan bahwa dokter gigi adalah sesuatu yang menakutkan.
Sebaiknya gunakan kalimat sederhana.
Misalnya:
“Kita mau lihat giginya supaya tetap sehat.”
Hindari menjanjikan bahwa perawatan pasti tidak terasa apa-apa.
Biarkan dokter membangun komunikasi dengan anak sesuai usia dan tingkat kerja samanya.
Kapan Anak Pertama Kali Harus ke Dokter Gigi?
Jangan menunggu anak sakit gigi.
Kunjungan ke dokter gigi sebaiknya dimulai sejak dini, termasuk ketika gigi pertama mulai tumbuh.
Tujuan kunjungan awal tidak selalu untuk melakukan tindakan.
Kami dapat memeriksa proses pertumbuhan gigi dan memberikan edukasi kepada orang tua mengenai cara membersihkan gigi anak.
Anak juga memiliki kesempatan untuk mengenal lingkungan dokter gigi dalam kondisi tidak sedang sakit.
Menurut pengalaman pelayanan pasien, anak yang datang ketika mengalami nyeri berat sering lebih sulit bekerja sama.
Hal ini dapat dimengerti karena anak sedang merasa sakit dan takut secara bersamaan.
Karena itu, kunjungan pencegahan jauh lebih baik dibandingkan menunggu keadaan darurat.
Bagaimana Cara Menyikat Gigi Anak yang Benar?
Untuk anak yang masih kecil, orang tua tetap perlu membantu menyikat gigi.
Jangan langsung menganggap anak sudah mampu membersihkan seluruh permukaan giginya hanya karena sudah bisa memegang sikat gigi.
Gunakan sikat dengan ukuran yang sesuai dengan usia anak dan bulu sikat yang lembut.
Sikat seluruh permukaan gigi secara perlahan.
Perhatikan gigi belakang karena area ini sering terlewat.
Gunakan pasta gigi berfluoride dengan jumlah yang sesuai usia dan anjuran.
Biasakan menyikat gigi dua kali sehari, terutama sebelum tidur malam.
Menyikat gigi sebelum tidur sangat penting karena sisa plak dan makanan dapat berada pada permukaan gigi selama anak tidur.
Anak Menelan Pasta Gigi, Bagaimana?
Pada anak kecil, kemampuan meludah mungkin belum sempurna.
Karena itu, jumlah pasta gigi yang digunakan perlu disesuaikan dengan usia.
Orang tua harus mengawasi proses menyikat gigi.
Jangan memberikan pasta gigi dalam jumlah berlebihan hanya karena anak menyukai rasanya.
Pasta gigi adalah produk untuk membantu membersihkan gigi, bukan untuk dimakan.
Jika Anda bingung mengenai jenis atau jumlah pasta gigi yang sesuai untuk anak, tanyakan kepada dokter gigi saat pemeriksaan.
Apakah Susu Menyebabkan Gigi Anak Berlubang?
Saya sering mendapatkan pertanyaan ini.
Yang perlu diperhatikan adalah pola konsumsi dan kebersihan gigi.
Masalah dapat meningkat ketika gigi sering terpapar minuman yang mengandung gula atau karbohidrat yang dapat difermentasi, terutama jika anak tidur tanpa membersihkan gigi.
Jika anak minum susu sebelum tidur, biasakan membersihkan giginya setelah itu.
Jangan membiarkan kebiasaan tidur dengan sisa minuman pada permukaan gigi berlangsung terus-menerus.
Diskusikan kebutuhan nutrisi dan pola minum anak dengan tenaga kesehatan yang sesuai, terutama pada bayi dan anak dengan kondisi khusus.
Bagaimana Mencegah Gigi Anak Berlubang?
Saya biasanya menyampaikan kepada orang tua bahwa pencegahan gigi berlubang tidak cukup hanya dengan mengatakan, “Ayo sikat gigi.”
Orang tua perlu terlibat.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah:
- Bantu anak menyikat gigi dua kali sehari.
- Gunakan pasta gigi berfluoride sesuai usia.
- Perhatikan kebersihan gigi sebelum tidur.
- Batasi frekuensi makanan dan minuman manis.
- Hindari kebiasaan ngemil manis sepanjang hari.
- Periksa kondisi gigi anak secara rutin.
- Jangan menunggu anak mengeluh sakit.
- Ikuti rekomendasi dokter gigi mengenai tindakan pencegahan.
Kebiasaan yang dibangun sejak kecil dapat membantu anak memahami pentingnya menjaga kesehatan gigi.
Tanda Gigi Anak Perlu Segera Diperiksa
Sebagai orang tua, segera jadwalkan pemeriksaan jika Anda melihat:
- Lubang pada gigi
- Bercak atau perubahan warna yang mencurigakan
- Anak mengeluh sakit
- Anak sulit mengunyah
- Gusi membengkak
- Pipi membesar
- Gigi patah akibat jatuh
- Gigi berubah warna setelah benturan
- Bau mulut yang menetap
- Anak sering memegang pipi karena nyeri
Jika pembengkakan menyebabkan anak kesulitan bernapas atau menelan, segera cari pertolongan medis.
Pesan Saya untuk Orang Tua tentang Gigi Anak
Saya memahami bahwa membawa anak ke dokter gigi terkadang tidak mudah.
Ada anak yang menangis. Ada yang tidak mau membuka mulut. Ada pula orang tua yang merasa khawatir anaknya akan trauma.
Namun, menunda pemeriksaan sampai gigi mengalami sakit berat juga dapat membuat pengalaman anak menjadi lebih sulit.
Mulailah mengenalkan perawatan gigi sejak dini.
Periksa gigi sebelum sakit.
Bantu anak menyikat gigi.
Perhatikan kebiasaan makan dan minumnya.
Dan yang paling penting, jangan menganggap gigi susu tidak perlu dirawat hanya karena suatu hari akan tanggal.
Kesimpulan
Gigi anak memiliki peran penting dalam proses mengunyah, berbicara, pertumbuhan, dan mempertahankan ruang untuk gigi permanen.
Gigi susu yang berlubang tetap perlu diperiksa dan mendapatkan perawatan sesuai kondisinya.
Jika anak mengalami sakit gigi, gusi bengkak, gigi patah, atau terdapat lubang pada gigi, jangan menunggu keluhan menjadi lebih berat.
Sebagai orang tua, Anda memiliki peran besar dalam menjaga kesehatan gigi anak.
Jangan tunggu anak menangis karena sakit gigi. Kenalkan pemeriksaan gigi sejak dini dan bangun kebiasaan merawat gigi mulai dari rumah.